PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Kaysan

GARA-GARA DAENDELS
Media: Kolase Digital 2 x (40 x 60cm)

Cerita Karya

Burung apa yang paling sering kamu temui sehari-hari? Ia memenuhi sudut jalan, rumah, maupun gedung tinggi. Ia makhluk asing, bukan asli Indonesia. Datang jauh dari Eropa, hingga kini memenuhi Jawa.

VOC datang ke Indonesia tidak hanya membawa bala tentara dan penderitaan, tapi juga Burung Gereja Erasia (Passer montanus). Sekitar tahun 1808-1811 burung ini ikut serta dalam kapal milik VOC yang mengantarkan Daendels ke Jawa.[1]

Mereka beradaptasi dan berkembang biak dengan baik. Populasinya berkembang pesat dan menyebar ke penjuru Jawa. Anehnya di daerah asalnya, burung ini justru semakin langka. [2]

Sumber Kolase

Lukisan “Portrait of Herman Willem Daendels (1762-1818)”
Karya Raden Saleh (1838)

Referensi
[1] Komunikasi Surat Elektronik dengan Bas van Balen (17 September 2019), Penulis Buku Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali dan peneliti burung di Indonesia sejak 1979.
[2] IUCN – Passer montanus

Jurnal Karya

Burung Gereja langsung jadi hal pertama yang muncul di kepalaku, begitu mendengar mentor mengumumkan rempah sebagai tema untuk diolah jadi karya rupa. Jauh berbeda dengan lazimnya kurasa, karena rempah biasa dikaitkan dengan dengan pala, lada, Belanda, VOC, pohon, atau bumbu masak.

Ide ini timbul karena aku pernah beberapa kali mendengar cerita tentang asal usul burung gereja dari beberapa kenalan pengamat burung. Burung gereja yang saat ini populasinya melimpah di Jawa ternyata bukan spesies asli Indonesia. Ia datang bersama VOC yang “berkunjung” ke Indonesia.

Tak banyak yang tahu fakta ini. Itu sebabnya aku tertarik mengangkatnya sebagai tema karyaku. Sekaligus mengenalkan tentang konsep alien species yaitu spesies organisme tertentu yang sebelumnya tidak ada di suatu habitat tertentu, kemudian diintroduksi ke wilayah tersebut. Alien species berpotensi invasif dan mengganggu keseimbangan ekosistem di tempat barunya. [1]

Sayangnya populasi burung gereja yang berlimpah tidak menjamin data yang melimpah. Tidak ada referensi tertulis yang kutemukan untuk mendukung cerita yang kudengar di atas. Akhirnya aku pun memutuskan berkontak dengan Bas van Balen, pria kelahiran Belanda 65 tahun silam [2], yang sudah meneliti burung di Indonesia sejak tahun 1979 [3] sehingga dijuluki “suhu” ornitologi Indonesia. Beliau juga salah satu penulis Buku Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Karya yang kubuat berlandaskan pada jawaban surat elektronik dari Pak Bas. Jujur kuakui seni rupa bukanlah makananku sehari-hari. Motivasiku bergabung dengan juru rupa awalnya lebih untuk melatih kemampuanku membuat sketsa pengamatan. Alhasil walaupun aku bisa menemukan ide dengan mudah, eksekusinya merupakan tantangan besar bagiku.

Watercolor jadi pilihan pertamaku untuk berekspresi, tapi sayangnya mentor tidak puas melihat karyaku. Syukurnya mentor kemudian mengenalkan teknik kolase dan memintaku mencari tahu tentang dadaisme. Lewat metode ini aku merasa lebih bisa mengekspresikan yang aku mau.

Namun…tetap saja proses yang kujalani selanjutnya tidak mulus. Ada dua tantangan yang menghambat dan menguji kesabaranku.

Pertama adalah aku terkadang ragu untuk menempel, menumpuk dan memutilasi berbagai hal untuk ditaruh dalam karyaku. Masih ada rasa takut salah yang terkadang mengganjal. Bolak-balik mentor memintaku melakukan revisi.

Kedua adalah waktu. Aku mengembangkan ide menjadi konsep sekitar akhir September dan Oktober awal. Namun selang seminggu, aku harus pergi ke Banyumas untuk ikut Program Live-in selama sebulan tanpa gawai. Praktis aku hidup tanpa internet sehingga sulit untuk mencari referensi dan mengenal lebih jauh metode kolase yang kupilih.

Selang seminggu setelah pulang dari Banyumas, aku kembali pergi ke luar kota hingga sekarang dan terpaksa melewatkan hadir di saat pameran. Syukurnya meskipun berada jauh, kali ini aku bisa terhubung dengan internet, hingga bisa menyelesaian karya. Whatsapp yang menyambungkan aku dengan kakak-kakak mentor untuk asistensi.

Di tengah jadwal yang sangat padat, kadang aku jadi lelah sendiri, jenuh, dan pusing. Sehingga cukup menantang untuk mengontrol emosiku. Di sisi lain aku juga merasa senang dan excited sebenarnya, karena pameran ini merupakan hal baru bagiku. Aku penasaran ingin melihat seberapa jauh aku mampu menuangkan ideku menjadi sebuah karya rupa dan bagaimana respon pengunjung yang menikmatinya.

Referensi:
[1] A. Sudomo. Alien Species. 4 Mei 2011. Diakses 15 November 2019.

[2] Bird Conservation Society. Bas van Balen, “Suhu” Ornithologi Indonesia. 22 Maret 2012. Diakses 15 November 2019.

[3] Rahmadi. Bas van Balen cinta Indonesia sejak di Belanda. Situs Berita Lingkungan Mongabay. 21 Februari 2015. Diakses 15 November 2019

Refleksi Pameran

7000km jarak antara M Bloc dan Delhi. Aku melewatkan kesempatan untuk hadir di pameran pertamaku dan lebih memilih pergi ke India. Sedih rasanya kehadiranku di Spice Space hanya bisa diwakilkan dengan dua buah kolase burung gereja. Yang paling aku sesali adalah aku tidak bisa melihat secara langsung reaksi pengunjung yang melihat karyaku.

Sampai detik terakhir sebelum pameran sebenarnya aku masih ragu dengan karyaku, apalagi kalau melihat perupa yang lain dengan karya mereka masing-masing, makin pesimis lah aku. Tapi untungnya kekhawatiranku hanya ada di kepalaku.

Melalui komen-komen pengunjung yang datang aku jadi bisa membayangkan apa yang mereka tangkap dari kolaseku dan menurutku mereka cukup menangkap pesan yang ingin kuberikan jadi aku merasa sangat senang.

Profil Mikail Kaysan Leksmana

Seorang pengamat burung yang sedang menjajal jadi perupa. Menggambar jadi alat ekspresi pertamanya di usia dini. Hanya saja aktivitas menggambar semakin ditinggalkan oleh Kaysan seiring dengan berkembangnya keterampilan menulisnya. Ditambah tak ada stimulasi khusus untuk mengasahnya. Beberapa kali Kaysan sempat ikut kegiatan komunitas sketch walk, namun jauh lebih banyak waktu digunakannya untuk menjelajah dan mengamati burung liar.

Belakangan timbul keinginan Kaysan untuk mengasah keterampilan membuat sketsa guna mendukung hobinya mengamati burung. Hal ini yang mendorong Kaysan untuk memberanikan diri bergabung dengan Juru Rupa di Pramuka OASE sejak awal 2019, hingga membawanya ikut dalam pameran Spice Space kali ini.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

One Reply to “Kaysan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun