PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Adinda

Fragmen Rempah, Portugis di Ternate
Media: Akrilik di atas kanvas – 2 x (65 x 45)

Cerita Karya

Bangsa Portugis datang ke Ternate, Maluku utara pada tahun 1511, dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Pada mulanya, rakyat Ternate menyambut hangat orang-orang Portugis dan menjual dagangan rempah mereka. Sultan Ternate bahkan meminta orang-orang Portugis untuk membangun benteng yang sekarang dikenal sebagai benteng Tolukko. Namun harga benteng sangat mahal. Rakyat Ternate harus membayar dengan rempah mereka kepada orang-orang Portugis, sehingga mereka tak bisa menjual rempah dengan bebas. Bertahun-tahun kemudian, Sultan Baabullah Datu Syah memimpin perang besar untuk mengusir penjajah Portugis dari kepulauan Maluku. Ia juga menggandeng kerajaan-kerajaan lainnya dari kepulauan Maluku, dengan ribuan perahu tempur dan ribuan prajurit.

Jurnal Karya

Awalnya aku bingung waktu tahu tema pameran kami adalah “rempah”. Tema rempah boleh diambil dari sisi manapun; makanan, sejarah, rasa, atau hal lain yang berhubungan dengan rempah. Saat mendengar kata “rempah” aku langsung terbayang makanan dan minuman seperti sop dan susu jahe yang diletakkan di atas meja makan, atau sejarah datangnya penjajah Eropa untuk mencari rempah. Lalu kupilih ide membuat lukisan tentang sejarah rempah di atas piring pottery (setelah sepekan sebelumnya aku berkunjung ke workshop pottery). Namun setelah diskusi dengan mentor, sepertinya akan sulit karena workshop pottery hanya ada di tempah-tempat tertentu dan harganya sangat mahal.

Hampir seminggu aku mencari inspirasi di internet dan buku-buku untuk konsep karya pameran, sampai pada suatu hari aku mengingat relief besar di klenteng Sam Poo Kong yang kulihat dua minggu sebelumnya. Relief itu menceritakan sejarah Sam Poo Kong dalam satu tembok panjang. Aku ingin membuat lukisan yang panjang seperti relief, tapi dengan gambar yang kanak2. Aku menggunakan warna-warna blok dan bentuk yang sederhana agar terlihat menyenangkan dan menarik bagi anak-anak.

Aku memilih media cat akrilik di atas kanvas karena aku pikir hasilnya akan lebih menarik dan eksekusinya tidak terlalu sulit, namun ternyata menggambar dan melukis diatas kanvas tak semudah yang aku bayangkan, dan ini pertama kalinya aku melukis di kanvas berukuran A2.

Bagian yang paling susah saat mengerjakan ini adalah memcampur warna cat, karena aku hanya punya 5 warna cat primer (merah, kuning, biru, putih dan hitam) sedangkan warna-warna yang kuinginkan adalah warna tersier seperti coklat dan biru toska. Kanvasku terlalu banyak ditumpuk cat karena warnanya tak sesuai dengan yang kumau, mengakibatkan tekstur kanvasku tak terlihat. Walaupun susah, aku (kadang) senang mengerjakannya dan lama-lama aku jadi tahu komposisi cat yang dibutuhkan untuk membuat warna tersier.

Refleksi Pameran

Pameran Spice Space kemarin menjadi salah satu momen yang paling berkesan bagiku di tahun 2019. Aku jadi tahu bagaimana cara berbicara dengan pengunjung dari luar agar mereka merasa nyaman dan tertarik untuk datang, dan menghadapi masalah yang ada di ruang pameran. Dan setelah pameran selesai, aku menjadi lebih semangat menggambar dan berkarya.

Aku juga ingin berterima kasih ke Kakak-kakak mentor yang mendampingi kami dan membuat pameran Spice Space menjadi kenyataan, juga kepada teman-teman perupa dan orangtuanya yang membantu dan memberi support untuk Spice Space.

Profil Adinda Suriatmojo

Adinda Suriatmojo, lahir di Jakarta 15 tahun yang lalu. Anak pertama dari dua bersaudara ini sangat gemar menggambar sejak balita.
Membuat komik, poster, mengilustrasi buku, desain busana, karya lino hingga karya animasi dan video adalah beberapa yang telah dicobanya untuk mengeksplorasi ketertarikannya di bidang visual.

Buku, poster, animasi dan videonya sempat meraih penghargaan di beberapa lomba nasional. Bersama Juru Rupa Klub Oase ia menikmati belajar membangun kemampuan seni rupanya, hingga saat ini menyiapkan pameran bersama untuk kedua kalinya.

Dalam karya yang dibuatnya untuk pameran kali ini; Fragmen Rempah – Portugis di Indonesia, Adinda mengemas rempah dengan memadukan ketertarikannya dalam ilustrasi, sejarah dan storytelling dalam relief.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

2 Replies to “Adinda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun