Jurnal Mentor Pameran Spice Space

Spice Space, Refleksi Perjalanan Bersama

Ketika kebutuhan mencorat-coret bertemu dengan keinginan mengaktualisasi diri.
Saat sebuah tema yang tak populer bersambung dengan jiwa muda yang merdeka.
Ruang yang terbuka luas untuk imajinasi dan ketrampilan yang tengah diasah.

Anak-anak berkarya dan orangtua menjadi teman seperjalanan.
_______________

Siang itu, 26 Juli 2019,
kami 3 mentor kegiatan Seni Rupa di Pramuka Klub Oase menutup perbincangan dengan rencana program selama 4 bulan di semester kedua tahun 2019.

• Membuat saringan karya
• Mempersiapkan kelas basic
• Membuka kesempatan Pameran untuk anak-anak yang lolos saringan karya.

Lengkap dengan timeline dan tema pameran yang sepakat kami pilih; Rempah.
Tema ini kami sesuaikan dengan tema program Eksplorasi di Pramuka Oase yang diikuti pula oleh sebagian peserta Juru Rupa.

Senang sekali ketika adik2 Juru Rupa antusias menghadiri pertemuan pertama di area CFD Jakarta dan mengerjakan karya pensil yang kami jadikan saringan menuju pameran.

Semua karya keren!
Namun kami ‘harus’ mengkasifikasi kemampuan mereka berdasarkan penguasaan teknik untuk memudahkan pengerjaan karya yang akan dipamerkan dalam 4 bulan berikutnya.
Dari 19 anak, 13 orang bisa melanjutkan ke tahap ke-2, pengumpulan karya. Karya2 ini yang akan meloloskan mereka ke tahap Persiapan Pameran. Saringan berikutnya adalah komitmen, yang akhirnya menyisakan 9 perupa dengan keinginan kuat menghasilkan karya terbaik mereka.

Pekan2 selanjutnya, kami mulai menemani adik2 menemukan ide, mengembangkan konsep dan memulai pengerjaan karya.
Ini adalah perjalanan yang berat untuk para adik2 perupa, perjuangan mengalahkan mood dan rasa malas. Mengalahkan perasaan: pameran masih lama.
Mengalahkan pula perasaan: ideku belum cukup baik, Belum pas dan belum sempurna.

Hingga waktu berjalan mendekat dan semua “kesempurnaan” harus mereka kejar dengan cepat. Konsep2 perlahan berubah menjadi nyata. Saatnya membuka beraneka teori dan membaca kanvas dari banyak kacamata.

Juru Rupa bukan satu2nya kegiatan di Klub Oase, bukan pula satu2nya kegiatan yang adik2 pilih, melainkan satu dari banyak kegiatan yang mereka tekuni.
Kemampuan membagi waktu dan menentukan skala prioritas adalah salah satu tantangan yang mereka pelajari dalam proses ini.

Ini membutuhkan keberanian untuk melalui proses. Karya yang mereka selesaikan harus dilanjutkan dengan sebuah presentasi kepada khalayak, bukan hanya kepada kami, orang2 yang telah mereka kenal.

23 November 2019,
akhirnya karya adik2 Juru Rupa dapat dipajang dan dinikmati oleh khalayak di sebuah ruang pamer yang dihadiri tidak hanya teman dan saudara, tapi juga mereka yang sama sekali tak mengenal kami. Selama 2 hari mereka tak hanya memajang karya, tapi juga mengundang pengunjung, menemani dan mempresentasikan apa yg telah mereka buat.

Semua karya keren!
dan dibalik karya2 keren itu ada adik2 yang telah sepenuh hati menerima kepercayaan dan tantangan orangtua untuk meletakkan salah satu milestone belajar mereka.

Kolaborasi luar biasa dari anak dan orangtua
kerja keras dan kreativitas yang didukung oleh cinta dan perhatian.

Spice Space lebih dari sekadar pameran.

Ia adalah satu harapan,
kebersamaan dan cinta yang mewujud dalam karya.

Profil ​Para Mentor

Nina Pierre

Penggemar seni rupa, Ibu rumah tangga dengan 2 orang anak, yang keduanya ikut dalam kegiatan Juru Rupa Klub Oase.

Gabriel Mahendra

Biasa dipanggil Kak Dudi adalah seorang seniman paruh waktu dan fulltime father bagi 3 orang anak yang kesemuanya home schooler. Lulusan jurusan Seni Murni ITB ini sempat menjadi illustrator dan graphic artist di industri penerbitan dan web design, sebelum kemudian memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga.
Menjadi mentor Juru Rupa Klub Oase adalah berkah yang luar biasa baginya, karena dapat menemani para remaja luar biasa ini berproses untuk menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Dudi juga merasa banyak belajar tentang daya tahan, konsistensi, dan semangat dari para perupa muda, ia belajar pula tentang cinta, perhatian dan dukungan semangat dari para orangtua mereka.

Vanda Yulianti

Seorang Ibu anak sekolah rumah yang merasa sangat bangga dapat mendukung unit Juru Rupa sebagai mentor. Lulusan Desain Komunikasi Visual Trisakti ini melihat potensi besar dari karya adik-adik perupa di usia yang masih sangat muda.

Beberapa kali dipercaya menjadi dosen tamu pengajar dan dosen tamu penguji pada prodi DKV, Vanda menilai kemampuan mencipta karya adik-adik perupa nyaris setara dengan mahasiswa. Hal ini membuat Vanda yakin, bahwa ke depan, Indonesia akan memiliki semakin banyak pekerja seni dalam bidang seni apapun yang menghasilkan karya berkualitas dan mampu menorehkan prestasi dunia.

Cerita di Balik Lagu Spice Space

CERITA DI BALIK LAGU SPICE SPACE

Baru pertama kali di dalam sejarah penulisan laguku, aku dikasih request untuk menulis lagu tentang sesuatu yang aku tidak kuasai, yaitu tentang rempah.

10 hari sebelum hari-H pameran Spice Space, aku ikut serta dalam rapat mentor dan perupa. Itupun sebenarnya, aku hanya menemani papa rapat. Aku tidak menggambar apalagi melukis karya untuk ditampilkan di pameran ini.

Namun disela-sela pembicaraan mentor, ketika aku mengambil gitar milik Kak Vanda, tiba-tiba aku dipanggil dan langsung diberitahu bahwa kakak-kakak mentor juru rupa memiliki ide brilian. Jantungku langsung berhenti sebentar, karena faktor kaget dan juga tau bahwa ini bukanlah ide brilian.

Akhirnya pada sore hari itu, kami sampai pada kesimpulan bahwa aku akan menuliskan lagu sebagai ost pameran Spice Space. Dan tentunya dengan tema rempah-rempah.

7 hari sebelum hari-H, aku baru mulai serius menggarap lagu ini. Ini adalah kali pertamaku mendapat request tema untuk lagu yang akan kutulis. Karena itu, aku sedikit bingung dan khawatir. Apakah kakak-kakak akan menyukai laguku? Bagaimana kalau nanti para mentor akan kecewa dengan lagu yang kutulis? Sepertinya aku terlalu fokus kepada kegalauanku dan malah lupa kalau aku sedang buat lagu

Sempat beberapa kali aku mengubah konsep dan bahasa. Lagu pertama, aku tulis dengan Bahasa Indonesia, namun terasa kurang pas di telinga. Jadilah aku mengganti lagu tersebut ke Bahasa Inggris. Tetap saja masih kurang menurutku.

Akhirnya aku berdiskusi dengan papa, mambahas sejarah rempah, jenis-jenis mereka, dan segala macam hal yang bisa aku ketahui tentang rempah. Sayangnya aku tidak mendapatkan inspirasi dari diskusi kami waktu itu.

Aku terus coba mencari inspirasi di sana dan di sini. Tetap saja belum ada hal dan topik yang ‘menamparku’. Disitu aku mulai sadar bahwa aku harus coba mencari inspirasi dari tempat yang berbeda. Akhirnya aku menonton cuplikan-cuplikan film Disney, yang berjudul Ratatouille. Dan hebatnya, ide-ide yang selama ini aku cari langsung berdatangan.

5 hari sebelum hari-H, akhirnya aku memaksa diriku untuk cepat-cepat menyelesaikan lagu ini. Supaya bisa direview oleh para mentor. Sesuai dengan pengalaman, hal tersulit yang menjadi hambatan dalam menulis lagu (dalam keadaan apapun sebetulnya) adalah kemalasan. Prokras! Melawan diri sendiri!

Untung dengan kekuatan khas milik mama, aku bisa menyelesaikan lagu ini di H-4 pameran. Dan aku sangat bersyukur bahwa tidak ada revisi dan semua orang menikmatinya.

Walaupun perjalananku menulis lagu Spice Space ini tidak begitu mulus, aku tetap sangat menikmati semua momenku ketika sedang pusing, bingung, stress, dikala proses penulisannya.

Profil ​Faustina Ratri

Seorang photographer? Videographer? Editor? Atau penulis lagu? Yang sudah pasti, aku adalah seorang homeschooler yang berumur 15 tahun. Dan untuk melihat karya-karya yang sudah aku upload di internet, bisa dilihat di IG: @faustinaratri

Syahba

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Syahba

AKU DAN REMPAH
Media: Digital (60 x 85)

Cerita Karya

Selama ini aku tidak pernah sadar betapa besarnya peran rempah, terutama di Indonesia.

Karena tanpa rempah, makanan tidak memiliki rasa khasnya masing-masing.
Tanpa rempah, obat-obatan herbal menghilang.
Tanpa rempah, hampir seluruh sejarah Indonesia merdeka tidak pernah terjadi.
Semua ini mulai dari hal sepele yang kita beli setiap hari di warung, rempah.

Ku menyesal karena tidak menyadari hal ini sebelumnya, tidak mengapresiasi rempah, tidak peduli tentang rempah. Bahkan tidak ingin tahu, karena ku anggap hanya bahan-bahan di dapur. Selama ini aku hanya tau jadi, tidak pernah memperhatikan warna, wangi, dan rasa-rasa unik yang dihasilkan rempah.

Ku sadar, tanpa rempah, mungkin sebagian dari sejarah dan peradaban di dunia ini tidak akan terjadi. Dari asia sampai afrika, masing-masing memiliki makanan khas yang termasuk sebagai kulturnya, tetapi tanpa rempah, makanan khas ini tidak akan ada. Sejarah pengobatan herbal pun tak ada. Ibu jamu yang sering melewati rumahku juga menghilang.

Rempah sudah menjadi bagian dari kehidupan, jadi inilah perasaanku yang ku tuang dalam bentuk gambar. Penyesalan, ketakutan, amarah, dan rasa sayang yang mendalam terhadap rempah.

Jurnal Karya

“Tema pemerannya adalah rempah.”

Setelah mendengar itu, jujur aku panik dan khawatir. Aku tidak mengenal rempah dengan baik dan aku bahkan tidak tertarik dengan rempah sama sekali saat itu. Bagaimana bisa aku menghasilkan suatu karya yang berhubungan dengan rempah?

Kami para perupa sudah diberikan timeline kapan harus selesai konsep, rough sketch, pewarnaan, dsb. Tapi selama sebulan lebih, aku habiskan hanya untuk mencari konsep dan menggambar rough sketch disaat yang lain sudah mulai mewarnai di kanvas. Dan dari berlembar-lembar coretan dan catatan, inilah yang ku pilih. Dan sejujurnya, ini jauh dari rencana awalku.

Karena ketertarikanku terhadap sejarah, aku memilih untuk menceritakan sebagian dari sejarah rempah. Aku mulai membaca artikel-artikel dan menonton film-film tentang rempah. Dari situ, aku mendapatkan banyak ide. Tetapi saking banyaknya, aku kesulitan untuk memilih. Selain itu, yang diluar dugaanku, aku sangat kesulitan menuangkan informasi dan cerita yang kumiliki ke dalam gambar.

Karena saking lamanya aku mencari sketsa untuk konsepku, aku mulai tidak menikmati ini. Apalagi dengan berbagai kegiatan yang harus ku lakukan semasa pembuatan karya, aku sempat menyerah dan meninggalkan sketchbook ku. Bahkan, ada satu waktu dimana ku pikir aku akan memundurkan diri dari pameran. Tetapi kesempatan ini belum tentu akan datang lagi, dan aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk menyelesaikan karyaku.

Jadi, aku putuskan untuk mengganti konsepku menjadi satu hal yang ku paling nikmati dan familiar, yaitu menuangkan perasaanku ke dalam gambar. Aku cukup mengenal diriku, aku hanya perlu mengeluarkan apa yang kurasakan tentang rempah ini. Ku buat konsep dan rough sketch hanya dalam sehari, dan aku cukup puas.

Menggambar ini terasa jauh lebih natural dibanding yang sebelumnya, aku juga menikmatinya.

Refleksi Pameran

Spice space adalah pengalaman keduaku pameran. Ku akui, ini bukan yang terbaik, tetapi bagiku ini cukup memuaskan. Aku merasa karya yang dipamerkan lebih baik dibanding saat Ofest. Mungkin medianya, atau mungkin warna dan gambarnya (yang pasti bukan lebih prepared sih hehe). Aku senang karena memutuskan untuk lanjut dan tidak berhenti di tengah jalan, aku jadi banyak belajar. Karna spice space juga, aku jadi tahu jauh lebih banyak tentang rempah. Makasih kaka-kaka mentorrr, sudah sabar ngedepin aku yang jarang update hehe

Profil Khalisa Syahba

Dari kecil Syahba lebih menonjol dalam bidang akademik di sekolahnya. Pada saat SD, Syahba mulai menunjukan minat pada bidang bahasa dan menggambar. Minat tersebut terlihat makin sering ditekuni Syahba pada saat usia SMP. Sehingga setelah lulus SMP, atas dasar keinginan nya sendiri Syahba memilih untuk melanjutkan sekolah dalam bentuk Homeschooling agar dapat lebih fokus ke bidang diminati.

Seni desain visual seperti photoshop menjadi pilihan pertama Syahba. Membuat brosur, spanduk, logo dan berbagai alat promosi untuk @bimbel_tikitaka dan @payoncitifoundation menjadi proyek pertama Syahba. Selain itu Syahba juga terlibat dalam kegiatan pembuatan kurikulum Bahasa Inggris di @bimbel_tiki taka

Pada tahun kedua Homeschooling, minatnya bertambah setelah dia menemukan hal baru tentang komputer sains. Kemudian Syahba mulai menekuni bidang programing aplikasi. Syahba mendapat kesempatan mengikuti pelatihan building mobile application bersama @Tokopedia dengan membuat aplikasi peduli lingkungan bernama @Eco yg dilakukan bersama temannya. Dan juga Syahba mendapat kesempatan untuk pelatihan sebagai developer bersama @DiloJakarta di bawah pengawasan @Telkom dan @Kemenpora. Saat ini seolah olah dunianya penuh dengan angka.

Walau demikian, sketch book dan pensil tidak pernah lepas dari kesehariannya. Syahba akan menggambar ketika dia sedih, marah, senang atau bosan terhadap sesuatu hal. Syahba juga akan menggambar ketika dia sedang pusing melaksanakan tugas programingnya. Sebaliknya, Syahba terlihat antusias melaksanakan tugas programming ketika dia lelah melakukan tugas menggambarnya.

Bagaimanapun, bagi Syahba menggambar adalah her stress relief and the way she expresses her feelings.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Trisha

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Trisha

SPICE SEA
Media: Cat Air – Pensil – Akrilik di Kertas Watercolor A2 x 2

Cerita Karya

Pada suatu masa, Hiduplah dua pelaut pemberani yang gemar berlayar bersama di atas lautan rempah-rempah yang berdebur, yaitu Aukai dan Varuna. Tanpa mengetahui akhir tujuannya, mereka terus menjelajah pulau demi pulau untuk keseruan yang akan mendatang.

Bedanya dunia ini dengan dunia yang semestinya, semua rempah berganti wujud menjadi lebih besar dan dijadikan sumber daya manusia untuk banyak hal.

Angin bertiup sangat kencang, membawa rakit mereka jauh menembus ombak ke tempat-tempat yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Hingga matahari terbenam dan waktunya istirahat, di bawah langit yang disinari bintang-bintang mereka buat api unggun sambil menikmati angin sepoi sepoi dengan suara laut yang tenang.
___________

Rakit kedua para pelaut terdiri dari kayu manis, daun salam, andaliman dan cabai merah.

Lalu di scene kedua ada daun mint, jahe, vanilli, vanilli yang dikeringkan untuk tenda, cabai sebagai bahan bakar api unggun dan daun teh kering.

Arti Nama
Aukai – “Penjelajah lautan dalam Hawaii”

Varuna – “Dewa / Dewi langit dan laut”

Source: Wikipedia

Jurnal Karya

After having yet another daily meeting for juru rupa, our mentors have announced that we will be holding an art exhibition near the end of the year! With the theme Spices.

From here I started brewing some wild ideas, ideas that I’d like to showcase and express through this one heck of an amazing opportunity to get myself out there as an artist.

The theme was great I thought, especially for me. Since I don’t meddle around that much with drawing spices plus not knowing much basic information to begin with, it’s a time for me to start getting with some research!

Concepting #1
At first I wanted to go with a piece showing what our environment might look like if everything was replaced with spices, what I imagined was people still living on their day to day lives in a simple yet busy village but with the roads, houses, trees all transformed into the form of the spices we use to cook in our kitchen.

I knew it was going to be challenging, there are a variety of spices in the world that I can choose from, but in the end I’d have to understand its purpose, the taste and how it’ll visually relate to the objects that will be turned into spice.

The rough image was already pictured in my head, like how wood can be related to cinnamon, star anise can be flowers growing out of the ground and other interesting similarities. Until I realized that I was quite lost at some point because of how detailed oriented everything will be, and that there wasn’t much time before the exhibition for me to go on concepting in this path so- 💃 I yeeted myself to something a bit different.

Concepting #2
Just like what our mentors suggested, we gotta think out of the box, and I still wanted to stay with the first concept but rather having it in a more simple and concrete focus.

So then the sailors idea popped and that’s what has gotten me this far joining the exhibition ✨

Rough Idea

Rough Sketches

* Some quick sketches to get the general idea out
* P.S I don’t usually spend much time concepting before the actual piece so it might look a bit plain-

Character Design (completed)

* Had a lot of fun coming up with these mad lads!
* Though the color scheme doesn’t fully match up entirely in the finished piece because the clock was ticking and I didn’t have much time to go experimenting.

Aukai
In hawaii means Sailor or Explorer of the Sea.

Varuna
The God or Goddess of the Sky and Sea.

Onto the paper!

If I were to be completely honest, the making process of this drawing wasn’t that prettyl- there were times where I felt pressured, unsure, scared of what will happen next. Because my style works with a lot of details it would be reasonable of me to set a good time management in order to keep myself on track and have the things I want to create for the piece done as I want them to be, but that’s not exactly how things went.

* The scene sketched out first was the second one, where the sailors settled down on an island to camp for the night.

To make the piece have a little more meaning into it, I wanted to make the personality of each character match with the types of spices.

Each spice has its own form, flavor and aroma. So for each two drawings it will represent the personality of Aukai and Varuna.

Varuna is the sweet, kind and supportive person of the team, but is strong and helpful to, so what I put are spices with sweet flavors and nice aromas. Vanilla, mint, tea are the main focus.

* First scene sketch (wip)

The raft is probably one of the longest time I’ve spent sketching- but different from the drawing showcasing Varuna, this one I wanted to fill with a more fiery and daring feel! In which is what kind of person Aukai is.

Without a care in the world, he goes on sailing away from island to island. There’s almost nothing that he’s afraid of, mostly unpredictable and stands proud with his ideals.

Going through with the painting process was where the tight spot has hit me, because my weekend has been quite busy back then I got sick chicken pox and had to bedrest for an entire week. After I was healed the remaining time for me to finish coloring with pencils was only a week left before the exhibition. And so I spent sleepless nights to get the job done.
Alright, reading through this might seem like it was really unbearable for me, but believe it or not I had quite a lot of fun zooming to finish the pieces.

Of course there were some breakdowns but it’s nothing too big I couldn’t handle~ because art is something used to express myself, so there won’t be a time where I do not enjoy it at all, despite feeling tired.

And in the end it was all worth it, not everything in the piece was as how I expected to be, but I remembered one of the things our mentor, kak Dudi said
“Some artists may not have the best time management, so it is important to set your mindset from ‘things that are nice to have in your drawing’ to ‘things that are needed in your drawing'”
And frankly, I think I’ve fulfilled my job in doing that.

It’s been one heck of a rollercoaster ride for me preparing for this exhibition, and I wouldn’t have taken it back for the world. I believe this experience has made me grow into a better and more committed person than I was before, so I’m very thankful for that!

Refleksi Pameran

If I were to share about this exhibition experience to everyone, it would take many words and phrases to define how I truly felt. But since I’m not really the best with cookin’ up good writings I’ll be making short and brief 💃

The point is, I am really thankful to everyone especially our amazing mentors, friends and families who has given a big portion of their time to support us and help out in making this event possible! If they weren’t there I think It’ll take a lot of time for me to stop sulking around on the couch thinking about what I should be doing with my life- :”D

Profil ​Trishamara Jasmine Kirana Siregar

Pameran “Spice Space” ini adalah pengalaman pertama Trisha menunjukkan karyanya kepada publik. Rasa terima kasih mendalam kami sampaikan kepada yang sangat kami sayangi kak Nina, kak Dudi dan kak Vanda atas kesempatan yang diberikan kepada Trisha.

Sejak usia 8 bulan, saat Trisha pertama dapat berdiri tanpa ditopang, dia mulai senang menggambar di pintu lemari pakaian di kamar tidur dan dia sangat menyukai menggambar sosok manusia. Menginjak usia 12 bulan, semua yang ada di rumah yang terlihat bisa dijadikan medium gambar, langsung menjadi target tempat berkarya oleh Trisha kecil, dari lantai rumah, meja makan, buku-buku, sepatu, kaos, tas, sampai rok dalam mama menjadi sasarannya. Ada satu medium luas yang lolos, yakni tembok rumah, padahal Trisha bisa dan kami juga tidak melarang, tapi Trisha sendiri tidak mau menggambari tembok di rumah, entah mengapa, mungkin dia pikir kurang seru kalau di tembok.

Menjelang usia 6 tahun, Trisha bergabung dengan Global Art Tebet untuk menyalurkan bakat dan kecintaannya pada dunia seni lukis. Hingga hari ini Trisha masih bersama Global Art, di tingkat terakhir yang insyaa Allah diselesaikan seluruhnya di tahun 2020.

Trisha kini aktif berjualan di Comifuro dan telah menghasilkan komisi dari gambar-gambar yang dibuatnya.

Dan melalui Juru Rupa, Trisha dapat mengasah kemampuan berseninya lebih dalam dengan bantuan para mentor dan teman-temannya yang senang berkarya bersamanya.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Tata

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Tata

HUTAN
Media: Watercolor on A1 Paper

Cerita Karya

Sang indra menangkap bau tak asing. Harum jeruk, kayu manis, dan pala. Cabe, lada, dan bawang. Aroma masakan dapur dan kesegaran alam menari-nari di hidung.

Tidak mungkin ini asli, bukan? Dimanakah ini?

Jurnal Karya

Disaat proses semua ini aku berada sekitar 400km diluar kota. Aku di Semarang, para mentor di Jakarta.

Tugas awal dari mentor Juru Rupa pun aku kerjakan di Semarang:

Ketika masa pengolahan konsep, aku bingung sama sekali. Kalau aku ada di Jakarta, aku bisa mengintip ide teman-teman lain atau saling curhat dan diskusi mengenainya. Tapi aku tidak di Jakarta, jadi komunikasi lebih sulit.

Untungnya, Kak Vanda sempat mengantar anaknya ke Semarang dan aku menggunakan waktu itu untuk konsultasi secara langsung mengenai konsep dan teknisnya.

Konsepku bergilir dari latar masa penjajahan, ke gubuk milik keluarga kecil. Di masa penjajahan aku ingin menunjukan chaosnya dengan rempah-rempah terinjak di daratan pasir, tapi aku sadar aku kurang pandai dengan sejarah. Gubuk milik sang keluarga kecil aku bayangkan disekitari kebun berisi rempah-rempah. Ada juga ide lain untuk membuat top-view wajan besar yang sedang memasak rempah dan hanya rempah.

Akhirnya, aku melakukan suatu hal yang selalu aku lakukan kalau aku pusing. Aku tidur. Dari mimpiku aku memutuskan untuk menggunakan prompt kecil untuk membantuku, “Where is this? Who am I.” yang sejujurnya sangatlah tipikal di film drama.

Emosi yang ingin kusampaikan adalah kebingungan dan disbelieve akan suatu hal yang indah dan megah.

Awalnya aku ingin full on watercolor. Tapi dengan konsep yang aku sketsa secara digital, aku merasa keterampilanku belum cukup. Dan tadinya aku ingin merubah media menjadi digital, tapi aku ingin sekali menggunakan watercolor saja. Jadi aku meng-akalkan untuk menempel dan memberi lapisan dengan kertas watercolor yang dipotong-potong.

Setelah beragam komunikasi online dan kunjungan langsung ke jakarta, akhirnya aku dapat mempersembahkan karya ini.

Refleksi Pameran

I’m a tad more comfortable saying this in English so. To start it off I just wanna say I’m really really really grateful for everyone. To the mentors, my fellow perupas, my family, friends, and the overwhelming support we got during d-day. Everything was a success, as if the stars have aligned perfectly the night before. So thank you, universe, for bringing us all together for this.

Something I say to myself a lot in this journey is, “f*** it,” which is another way to say, “whatever happens, happens”. I don’t like taking risks, and that shows on my drawings. They often lean towards the pastel, unsaturated sort of side. It’s because I use light colors, in fear that I won’t be able fix a mistake if it’s to dense. However, for this art piece the color needs to be bold. And using the motivation from the mentors, my parents, and the cruelty of time, I conquered my fear.

Once again, thank you, to one of the biggest thing I did this year. Hopefully, this won’t be our last. We’ll see you another time, thank you 💖

Profil Wanita P Bijaksana

Tata, demikianlah nama panggilannya.

Terlahir 15 tahun yang lalu di Jakarta, Tata menjadi anak ke-2 dari 3 bersaudara.

Tata memiliki rentang minat yang luas di dunia visual. Dia senang menggambar menggunakan pensil, cat air maupun secara digital. Dia senang juga membuat doodle dan video speed drawing di Youtube. Dia juga pernah membuat produk kartu belajar yang diberi nama “CritaCrita”.

Dalam pameran “Spice Space” bersama para sahabat homeschooling yang tergabung dalam unit Juru Rupa Klub Oase, Tata mengeksplorasi gagasan tentang rempah dan mencoba menggunakan media cat air sebagai media ekspresinya.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Naufal

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Naufal

TURQUOISE ROASTERY
Media: Digital painting (60 x 84cm)

Cerita Karya

A quiet blue room in the corner of the street. Inside, a strong but calming earthy smell rules the space.

Does it come from the cabinets, the machines, the freshly-brewed cups of coffee or even the steak?
Maybe, it’s all of them.

Jurnal Karya

Futurism. That’s what I like and the thing I do best (mostly). I’ve always taken interest in art with cyberpunk, mecha or post-apocalyptic themes. When the theme of the exhibition was announced to be “spice”, I figured it was my job to incorporate spices into a futuristic scene. I got a whole bunch of ideas coming to my head.

I started off with an idea about a deliveryman carrying boxes of spices on their back on a helipad or something. The concept went well, but when I started painting the actual piece, I had trouble on making the details. I went to visit quite the number of concept artists to look for references, but because my skill then was lacking, I was unsuccessful in doing so.

I changed the image slightly, removing the city background but still incorporating the helipad/hangar theme. Then it hit me, I can’t draw futuristic vehicles. I gave up and made an alternative concept about a man carrying boxes of spices on his back across a railroad. It was inspired by the Death Stranding game trailers and various promotional images I’ve seen (this was almost two months ago; the game hasn’t been released yet).

Yet again I hit a brick wall midway realising I needed to paint a broken car in the background, and I can’t paint vehicles. Knowing I tried to paint two futuristic vehicles and failed, I idiotically chose a flying pickup truck as the main subject of the next concept.

This one went pretty far, up to the point where if it was a normal-sized 2480×3508 image I would have considered it a finished drawing (albeit not being a very good one). This one took more time than all of the others (including my final image), spanning almost 3 weeks, including procrastination (not counting the one-month hiatus due to a live-in program).

It was about a pickup truck carrying a bunch of onions and garlic in a box rushing to what is presumably the drop-off point, spilling over its contents as a result. Because I didn’t know how to paint a car, it looked flat and made it stick to the background. I even added a flying sportscar in the distance, but nothing really worked out for it.

Here, I decided to throw everything away out of the window and start over instead of fixing the problems. The next concept was about a few armoured cars supposedly carrying shipment to an artificial company building in an abandoned and polluted environment.

The story was pretty clear, but the art was a bit “eh”. I said to myself, why does everything have to involve cars? So, I scrapped that and moved to another concept, this time involving a fruit stand in the middle of an abandoned neighbourhood.

Once I was about 40% done, there was a spot that looked pretty empty, so I started sketching on it. I couldn’t really find anything to fill it in with, and the only option left is… a car. I stopped progress on that drawing and opened a new file.

I’m confused on what to draw now, and I couldn’t find any more ideas that are both futuristic and include spices in it. All this time I kept looking at references and would incorporate the same shapes and colour palette onto my own artwork, so my mum told me “Why not make your own idea? Something completely original.”

Thinking hard, I still couldn’t find an original idea of these “futuristic spices”. Then, I asked myself Does it really have to be futuristic? If you’re not that good at making buildings and cars, why not make an indoors scenario?

I sketched a concept on paper that involved two people drinking coffee on a table in a café. To get the shapes right, this time, I did line art using the line and ellipse tools on photoshop. I would later paint under it, then erase the line art to tidy up the edges of the painting underneath.

I chose coffee because I didn’t really want to draw a restaurant scene with a multiple kitchen sets because that would be tiring and my time is limited. And I can’t draw that many people in a scene.

Is coffee a spice? Yes. The definition of a spice is: a dried fruit, seed or root that acts as a food additive to enhance flavour and/or colour. While called coffee beans, they’re actually a seed from the coffee fruit. Coffee can be used to strengthen the taste of sauces, give an earthy flavour to meat and make chocolate-based foods “taste more like chocolate.”

After I was done smoothing out the edges of the room, I started to work on the smaller objects like the cups and the coffee machines. It was around this part that I felt like I wasn’t sure if I could draw a person digitally, but I thought it would come last and I would just wing it later on.

I added in the details and tidied up the painting even further. I told my mum I would add the person now (it turned from two people to just one) but she said the person sitting on the chair would cover up detail, so I didn’t add it in.

In the end, this art was the culmination of all the things I learned throughout my 5 previous cancelled ones. It’s a bit rare for me to say it, but this time, I’m pretty proud of my work.

Sources:
·forums.gateworld.com
·phoenixnewtimes.com

Refleksi Pameran

Prior to the exhibition, I felt really confused because I had no idea how to put spice into a futuristic scene, but I ended up making a mainstream-time scene. I didn’t really feel nervous until the exhibition day because I have a mindset that “whatever happens, happens” so I don’t get scared about upcoming events until the actual day.

I felt happy about the exhibition because it gives me an opportunity to show what I am capable of. I made an artwork I’m proud of and I can present it to everybody.

Profil Naufal Ghazi

Naufal menggambar sejak pertama kali bisa memegang alat tulis. Media pertama yang digunakannya selain kertas adalah lantai dan dinding. Dia terus menggambar hingga usia sekolah dasar.

Sekitar usia 9 – 10 tahun, Naufal mulai ingin mengenal dunia programming dan web designing. Namun di sini minatnya tidak bertahan lama. Dia kembali menekuni dunia menggambar hingga sekarang.

Pernah beberapa kali mengikuti lomba literasi untuk tingkat PAUD dan Sekolah Dasar untuk menjajal kemampuannya sebagai illustrator cerita anak. Beberapa karya ilustrasi yang pernah dibuatnya juga diterbitkan dalam bentuk e-book cerita anak di web www.serusetiapsaat.com.

Menggambar digital adalah hal baru buatnya. Karya yang ditampilkan di pameran Spice Space ini merupakan karya keduanya yang dibuat secara digital di komputer. Sedangkan karya pertamanya adalah ilustrasi sampul buku “Aku Belajar, Tapi Gak Sekolah” (2019).

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Kayyisha

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Kayyisha

DAPUR REMPAH
Media: Digital, cetak di atas kertas albatros
4x (30 x 42cm)

Cerita Karya

Siapa yang bisa menolak aroma teh yang menguar dari ceret panas?
Bahkan pak petani yang berjalan melewati jendela pun tak kuasa untuk tidak menghidunya.

Hari ini, Nenek menyajikan makanan kaya rempah yang nikmat. Ada nasi gudeg, ikan bandeng rempah, sambal, wedang jahe, dan minuman buah pala.

Siapa yang ingin makan bersama Nenek?

Jurnal Karya

Aku memilih untuk membuat karya untuk pameran ini dengan konsep simpel, seperti illustrasi. Aku sedang menyukai illustrasi yang ada di buku cerita anak, terutama yang dibuat dengan watercolor.

Biasanya aku tidak menggambar seperti yang kubuat dalam pameran Spice Space ini. Bisa saja aku menggambar orang yang fitur tubuhnya lebih proporsional dan dengan warna yang lebih detil. Namun aku mencoba untuk keluar dari comfort zone. Walaupun masih belajar untuk menggambar dengan style simplistic aku tetap ingin orang melihatku menggambar dengan style berbeda.

Awalnya aku ingin membuat gambar tentang betapa berharganya rempah-rempah. Tapi karena konsepku belum jelas dan berantakan, aku tidak jadi membuatnya.
Lalu aku mendapat inspirasi ketika sedang browsing tentang rempah-rempah di internet. Dan aku melihat kalimat “spices bring taste and warmth to the table” atau “rempah membawa rasa dan kehangatan ke meja makan”. Ini kemudian menginspirasiku untuk membuat konsep sesuai dengan gambar yang kubuat ini.

Sebelumnya aku merencanakan untuk membuatnya dengan watercolor, agar nilai seninya lebih terasa. Tapi entah kenapa, di tengah jalan motivasiku hilang. Aku masih ingin melanjutkan menggambar tapi setiap kali melihat gambarnya, timbul rasa malas. Aku malah menggambar yang lain yang bukan projectku ini secara digital.

Pertemuan terakhir dengan para mentor membuat motivasiku bangkit lagi. Kakak-kakak mentor memberiku saran untuk menggambar secara digital saja, karena waktuku sudah tidak banyak. Saat itu aku harus mengikuti program eksplorasi selama seminggu.

Jadi aku benar-benar mengebut pekerjaan untuk bisa selesai. Butuh waktu sekitar 5-6 hari untuk menyelesaikannya. Kalau saja aku membuat gambar digital sejak awal, mungkin gambarku bisa lebih detil. Tapi sekarang waktuku tidak banyak. I could’ve drawn better, but I’m still proud of the one I have now.

Cerita di gambarku ini cukup sederhana. Aku bagi dalam empat frame terpisah. Di setiap frame aku menjelaskan agar orang bisa tahu apa yang sedang terjadi di gambar ini.

Ada seorang nenek sedang makan berhadapan dengan cucunya. Lalu ada dapur berantakan yang berarti baru saja digunakan. Ada pekerja yang melongok ke dalam ruangan melalui jendela karena mencium aroma teh yang berasal dari ceret di atas kompor. Juga ada seekor kucing yang bergantung di pinggir meja untuk mencuri ikan, namun tidak terlihat baik oleh si nenek maupun cucunya.

Aku menikmati proses menggambar digital ini. Satu hal yang aku pelajari dalam proses menggambar untuk pameran ini, yaitu jangan menunda-nunda pekerjaan.

Refleksi Pameran

Ada dua kata untuk mendeskripsikan pameran ini. Satu, menegangkan. Aku harus memajang gambar yang aku buat di dinding yang bisa dilihat oleh banyak orang yang tidak aku kenal. Ditambah lagi aku harus berbincang dengan orang asing!

Kedua, menyenangkan! Walaupun aku tegang, perasaan yang aku rasa dari saat loading barang sampai day two, itu senang. Aku senang bisa berbicara kepada orang yang tidak aku kenal, walaupun masih kaku. Dan aku senang orang lain bisa melihat karyaku. Bisa dibilang selama ini aku selalu “menyembunyikan” gambar-gambar yang aku buat. Dan sama sekali tidak ingin memperlihatkan karyaku. Pameran ini yang akhirnya membuatku lebih pede dengan gambarku. Aku tidak tahu apakah ada orang yang tidak menyukai gambarku, tapi aku dengan jelas bisa melihat bahwa ada cukup banyak orang yang suka dengan apa yang aku gambar.

Saat aku memperhatikan gambarku yang sudah jadi, ada banyak kekurangan. Ada juga bagian-bagian yang salah dan membuatku sangat ingin untuk memperbaikinya. But overall I’m happy.

Profil Kayyisha Haifa

Sejak kecil, Kayyisha suka membaca buku dan bercerita. Gambar yang dia buat sejak usianya 4 tahun berupa story telling, atau gambar yang bercerita. Meskipun Kayyisha mempunyai beberapa minat lain, yaitu memasak dan berpetualang, dia tidak pernah meninggalkan dunia menggambar.

Saat ini, Kayyisha senang berlatih menggambar menggunakan tablet. Membuat ilustrasi cerita merupakan cita-citanya. Buku sketsa adalah salah satu benda yang senantiasa dia bawa setiap kali berpergian. Alam dan human interest adalah sumber inspirasinya dalam menggambar.

Bergabung bersama perupa muda di Juru Rupa Klub Oase merupakan salah satu cara untuk melatih skill-nya. Apalagi dengan mentor yang luar biasa, Kayyisha merasa terus termotivasi untuk bisa menghasilkan karya dalam pameran Spice Space ini.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Kaysan

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Kaysan

GARA-GARA DAENDELS
Media: Kolase Digital 2 x (40 x 60cm)

Cerita Karya

Burung apa yang paling sering kamu temui sehari-hari? Ia memenuhi sudut jalan, rumah, maupun gedung tinggi. Ia makhluk asing, bukan asli Indonesia. Datang jauh dari Eropa, hingga kini memenuhi Jawa.

VOC datang ke Indonesia tidak hanya membawa bala tentara dan penderitaan, tapi juga Burung Gereja Erasia (Passer montanus). Sekitar tahun 1808-1811 burung ini ikut serta dalam kapal milik VOC yang mengantarkan Daendels ke Jawa.[1]

Mereka beradaptasi dan berkembang biak dengan baik. Populasinya berkembang pesat dan menyebar ke penjuru Jawa. Anehnya di daerah asalnya, burung ini justru semakin langka. [2]

Sumber Kolase

Lukisan “Portrait of Herman Willem Daendels (1762-1818)”
Karya Raden Saleh (1838)

Referensi
[1] Komunikasi Surat Elektronik dengan Bas van Balen (17 September 2019), Penulis Buku Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali dan peneliti burung di Indonesia sejak 1979.
[2] IUCN – Passer montanus

Jurnal Karya

Burung Gereja langsung jadi hal pertama yang muncul di kepalaku, begitu mendengar mentor mengumumkan rempah sebagai tema untuk diolah jadi karya rupa. Jauh berbeda dengan lazimnya kurasa, karena rempah biasa dikaitkan dengan dengan pala, lada, Belanda, VOC, pohon, atau bumbu masak.

Ide ini timbul karena aku pernah beberapa kali mendengar cerita tentang asal usul burung gereja dari beberapa kenalan pengamat burung. Burung gereja yang saat ini populasinya melimpah di Jawa ternyata bukan spesies asli Indonesia. Ia datang bersama VOC yang “berkunjung” ke Indonesia.

Tak banyak yang tahu fakta ini. Itu sebabnya aku tertarik mengangkatnya sebagai tema karyaku. Sekaligus mengenalkan tentang konsep alien species yaitu spesies organisme tertentu yang sebelumnya tidak ada di suatu habitat tertentu, kemudian diintroduksi ke wilayah tersebut. Alien species berpotensi invasif dan mengganggu keseimbangan ekosistem di tempat barunya. [1]

Sayangnya populasi burung gereja yang berlimpah tidak menjamin data yang melimpah. Tidak ada referensi tertulis yang kutemukan untuk mendukung cerita yang kudengar di atas. Akhirnya aku pun memutuskan berkontak dengan Bas van Balen, pria kelahiran Belanda 65 tahun silam [2], yang sudah meneliti burung di Indonesia sejak tahun 1979 [3] sehingga dijuluki “suhu” ornitologi Indonesia. Beliau juga salah satu penulis Buku Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Karya yang kubuat berlandaskan pada jawaban surat elektronik dari Pak Bas. Jujur kuakui seni rupa bukanlah makananku sehari-hari. Motivasiku bergabung dengan juru rupa awalnya lebih untuk melatih kemampuanku membuat sketsa pengamatan. Alhasil walaupun aku bisa menemukan ide dengan mudah, eksekusinya merupakan tantangan besar bagiku.

Watercolor jadi pilihan pertamaku untuk berekspresi, tapi sayangnya mentor tidak puas melihat karyaku. Syukurnya mentor kemudian mengenalkan teknik kolase dan memintaku mencari tahu tentang dadaisme. Lewat metode ini aku merasa lebih bisa mengekspresikan yang aku mau.

Namun…tetap saja proses yang kujalani selanjutnya tidak mulus. Ada dua tantangan yang menghambat dan menguji kesabaranku.

Pertama adalah aku terkadang ragu untuk menempel, menumpuk dan memutilasi berbagai hal untuk ditaruh dalam karyaku. Masih ada rasa takut salah yang terkadang mengganjal. Bolak-balik mentor memintaku melakukan revisi.

Kedua adalah waktu. Aku mengembangkan ide menjadi konsep sekitar akhir September dan Oktober awal. Namun selang seminggu, aku harus pergi ke Banyumas untuk ikut Program Live-in selama sebulan tanpa gawai. Praktis aku hidup tanpa internet sehingga sulit untuk mencari referensi dan mengenal lebih jauh metode kolase yang kupilih.

Selang seminggu setelah pulang dari Banyumas, aku kembali pergi ke luar kota hingga sekarang dan terpaksa melewatkan hadir di saat pameran. Syukurnya meskipun berada jauh, kali ini aku bisa terhubung dengan internet, hingga bisa menyelesaian karya. Whatsapp yang menyambungkan aku dengan kakak-kakak mentor untuk asistensi.

Di tengah jadwal yang sangat padat, kadang aku jadi lelah sendiri, jenuh, dan pusing. Sehingga cukup menantang untuk mengontrol emosiku. Di sisi lain aku juga merasa senang dan excited sebenarnya, karena pameran ini merupakan hal baru bagiku. Aku penasaran ingin melihat seberapa jauh aku mampu menuangkan ideku menjadi sebuah karya rupa dan bagaimana respon pengunjung yang menikmatinya.

Referensi:
[1] A. Sudomo. Alien Species. 4 Mei 2011. Diakses 15 November 2019.

[2] Bird Conservation Society. Bas van Balen, “Suhu” Ornithologi Indonesia. 22 Maret 2012. Diakses 15 November 2019.

[3] Rahmadi. Bas van Balen cinta Indonesia sejak di Belanda. Situs Berita Lingkungan Mongabay. 21 Februari 2015. Diakses 15 November 2019

Refleksi Pameran

7000km jarak antara M Bloc dan Delhi. Aku melewatkan kesempatan untuk hadir di pameran pertamaku dan lebih memilih pergi ke India. Sedih rasanya kehadiranku di Spice Space hanya bisa diwakilkan dengan dua buah kolase burung gereja. Yang paling aku sesali adalah aku tidak bisa melihat secara langsung reaksi pengunjung yang melihat karyaku.

Sampai detik terakhir sebelum pameran sebenarnya aku masih ragu dengan karyaku, apalagi kalau melihat perupa yang lain dengan karya mereka masing-masing, makin pesimis lah aku. Tapi untungnya kekhawatiranku hanya ada di kepalaku.

Melalui komen-komen pengunjung yang datang aku jadi bisa membayangkan apa yang mereka tangkap dari kolaseku dan menurutku mereka cukup menangkap pesan yang ingin kuberikan jadi aku merasa sangat senang.

Profil Mikail Kaysan Leksmana

Seorang pengamat burung yang sedang menjajal jadi perupa. Menggambar jadi alat ekspresi pertamanya di usia dini. Hanya saja aktivitas menggambar semakin ditinggalkan oleh Kaysan seiring dengan berkembangnya keterampilan menulisnya. Ditambah tak ada stimulasi khusus untuk mengasahnya. Beberapa kali Kaysan sempat ikut kegiatan komunitas sketch walk, namun jauh lebih banyak waktu digunakannya untuk menjelajah dan mengamati burung liar.

Belakangan timbul keinginan Kaysan untuk mengasah keterampilan membuat sketsa guna mendukung hobinya mengamati burung. Hal ini yang mendorong Kaysan untuk memberanikan diri bergabung dengan Juru Rupa di Pramuka OASE sejak awal 2019, hingga membawanya ikut dalam pameran Spice Space kali ini.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Khansa

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Khansa

抹茶 ( MUO CHA )
Media: Digital A1 – (59,4 x 84 cm)

Cerita Karya

6.000 tahun yang lalu, di Cina. shennong seorang petani sedang mencari biji – bijian dan rempah yang bisa dimakan. Dengan tidak sengaja dia meracuni dirinya 72 kali dan tiba – tiba sebuah daun melayang dan masuk kemulut nya dan dia langsung sembuh. ( padahal teh tidak menyembuhkan racun)

Dan pada saat itu lah shennong menemukan Matcha. Matcha sangat populer dizaman nya selalu disebut sebutkan di buku dan puisi dan kesukaan para kaisar. Di abad ke 9, dinasti Tang seorang biksu dari jepang membawa daun matcha pertama yang masuk ke jepang. Jepang akhirnya membuat ritual mereka sendiri terhadap teh matcha dan itu mengarah ke terlahirnya upacara minum teh ( Sado 茶道)

Pembuatan teh matca tidaklah sulit hanya saja untuk mendapatkan kualitas yang bagus matcha harus dijaga dengan sangat baik. Dari penumbuhan tunas baru, waktu pemetikan, pengukusan, pengeringan, Penghalusan, dan cara penyajiannya.

Referensi:
– TED-Ed “The history of tea – Shunan Teng”
– Tasty Japan “-茶道 – Japanese Tea Ceremony -”
– jstsciencechannel “THE MAKING (English version) (269) the making of matcha and Bamboo Tea Whisks” 

Jurnal Karya

Konsep pertama ku bukanlah teh matcha melainkan rempah- rempah yang akan dijadikan manusia atau humanoid rempah- rempah. Saat itu aku berdebat dengan diriku sendiri tentang style gambarku. Sejak awal aku mengikuti pameran pun aku sudah merasakan itu “Apakah style anime/manga ini bisa mendapatkan perhatian ?” atau “apa boleh diriku berkarya menggunakan style ini?” “Apa style yang ku usahakan selama ini sia-sia?” perdebatan ini terus berlanjut sampai di titik dimana aku berpikir untuk menyerah.

Disaat itu aku tidak tau bagaimana bilang kata “menyerah” ini kepada mentor-mentor yang menunggu karya ku akhirnya karena tidak berani aku pun meminta bantuan dari bundaku untuk mengatakan nya kepada mentorku, Kak Vanda. Aku pun merasa agak lega karena ku pikir setelah ini aku bisa bebas dari pertanyaan-pertanyaan itu tapi ternyata tidak.

Kak Vanda tetap meyakinkan ku kalau aku itu kuat menghadapi tekanan yang aku rasakan saat itu dan memberi ide lain yang menurut ku sangat cocok untuk style ku. Kak Vanda menganjurkan untuk membuat karya yang berhubungan dengan teh “Matcha”. Dan disaat itu lah perjalanan yang menguji kekuatan kesabaran ku sebagai seorang Artist.

Konsep, aku mencari ide lewat Pinterest, teman sejati seorang artist. Aku juga berkonsultasi kepada mentor-mentor tentang ide ku. Setelah menemukan ide langsung ku gambar menggunakan Wacom tablet ku. Setelah itu aku bingung mau diapakan lagi.. karena ada sedikit keraguan aku pun membuat sketch yang lain.

Hari rabu adalah hari pertemuan untuk anak OASE disaat itu juga kami anak jurup (Juru Rupa) bertemu dan saling sharing karya masing-masing. Saat ku perlihatkan Konsep ku yang ku buat karena ragu, mentor-mentor agak bingung dengan alurnya tetapi gambarnya sangat detail dan bagus. Dan aku perlihatkan konsep ku yang pertama yang kubuat sangat asal asalan reaksinya mentor suka dengan idenya. Mereka bilang bagaimana jika keduanya digabung. Ok aku gabung.

Dan dari situ aku mulai sketch, easy. Terus dilanjut dengan lining, lumayan lah. Yang terakhir coloring hal paling SUSAH dan yang paling ku khawatirkan. Kenapa? Mungkin karena coloring skill ku belum bagus dan sempat juga menyerah beberapa kali. Dan aku pun bilang akan menyerah di depan kak Nina dan Bundaku. Tapi kak Nina tidak memperbolehkan ku menyerah begitu saja dia juga meyakinkan ku kalau aku bisa menyelesaikan karya ku.

 

Dan ya aku selesai, walau aku harus pergi jauh ke tasikmalaya untuk belajar menjadi warga desa ber eksplorasi disana tanpa membawa gadget dan sedikit refreshing dari menggambar karya ku. Dan walaupun aku harus menangis untuk meringankan kepala ku yang sudah banyak pikiran. Tapi at the end aku selesai melewati tu semua dan aku bangga aku sudah selesai. Yang penting selesai.

Terima kasih.

Refleksi Pameran

Ini adalah pameran kedua yang mungkin lebih nerves dan lebih stress dari yang pertama. 

Aku  nerves karena aku harus bisa menjelaskan apa yang aku gambar sama orang asing rasa nya ingin sekali aku pergi keluar kota dengan beralasan tidak ingin ikut saat pameran berlangsung tapi gak bisa…

Selama pameran berlangsung aku harus berdiri dengan malu dan harus bisa menyapa duluan itu susah banget! Aku selalu menyempatkan diri agar bisa menghindar dengan alasan- alasan receh ku.

Tapi dari situ aku bisa melihat seberapa parah nya aku dalam berkomunikasi di depan orang yang gak ku kenal. Ternyata parah sekali.  

Selesai pameran aku langsung mendaftarkan diri pada kegiatan apapun (yang masih masuk kegiatan menggambar pastinya) untuk berlatih public speaking ku dan nonton banyak video tentang “berbicara”.

Karena mungkin suatu hari nanti aku akan diajak menjadi tamu talkshow di sebuah acara.

Profil Khansa Fathiyah Hawanisandi

Khansa Fathiyah Hawanisandi tertarik menggambar seingat saya sejak kecil. Namun saya menyadari dia serius menggambar sejak SD kelas 3, dia sering menggambar komik serta menulis ceritanya pada lembaran kertas dan cukup rapi.

Pada Usia 12 tahun mulai menggunakan alat gambar digital, dan semakin serius dengan hobinya.

Selain seni menggambar, Khansa juga tertarik pada dunia seni lainnya. Diantaranya menyanyi, memainkan alat musik (gitar dan ukulele), ada juga kegiatan mencukil lino dimana Khansa pernah mengikuti event sebagai peserta terbaik yang diadakan Fakultas Seni Rupa IKJ tahun 2017.

Bergabung dengan Juru Rupa Oase sejak setahun lalu di bawah bimbingan para mentor, dan bersyukur hari ini bisa menggelar pameran karyanya yang kedua. 😊

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun

Andini

PAMERAN KARYA 9 PERUPA MUDA

Andini

SPICE GIRL
Media: Akrilik di atas kanvas – 9 x (20 x 20)

Cerita Karya

Seorang gadis kecil yang tertarik dengan aroma, bentuk dan warna rempah-rempah.

Aroma yang harum dan tajam.

Bentuk yang unik dan lucu.

Warna yang sangat bervariasi.

Membuat gadis kecil antusias terhadap rempah.

Jurnal Karya

Sejak diberitahu aku boleh ikut projek pameran, aku sudah terpikir untuk menggambar seorang “ gadis kecil “ yang berrambut pendek sedang bersama rempah-rempah, Awalnya aku ingin menggambar dengan media ukulele, akan tetapi mentor-mentor memberitahu minimal ukuran media adalah A1, ukuran tersebut jauh bedanya dengan ukuran ukulele, jadi aku memutuskan untuk menggambar di kanvas ukuran 20×20 yang jumlahnya ada 9. Aku juga terpikir kalau nanti setiap lukisannya akan diberi aroma rempah sesuai gambar masing-masing tapi ide tersebut kubatalkan karena agak sulit untukku.

Waktu pengerjaanku sekitar kurang lebih 2 bulan karena aku sendiri belum terbiasa melukis diatas kanvas apalagi bertemu dengan hal-hal macam smudging, campur warna dengan cat berwarna primer dan tentunya rasa malas yang datang kapan saja :”)

Dimulai dari corat-coret di kertas hingga menjadi sebuah lukisan, awalnya aku membuat konsep tentang seorang gadis kecil yang antusias pada rempah dengan style cartoonish, lalu menuangkan ide tersebut ke canvas kosong.

Saat membuat lukisan pertama aku sedikit kesulitan dibagian smudging, alhasil tekstur lukisan terlihat kasar dan aku tidak puas dengan lukisan itu, jadi aku membuat ulang lukisanku yang sebelumnya lalu lanjut melukis canvas-canvas kosong lainnya.

Hal yang paling sering terjadi saat mengerjakannya adalah ketika sedang melukis dan tak sengaja mencoret bagian yang tak seharusnya dicoret, hehehe sungguh menyebalkan tapi itu dilakukan oleh diriku sendiri jadi aku harus bertanggung jawab atas “ kecoret-an “ tersebut. Kerja dua kali, timpa-hapus timpa-hapus sampai pada akhirnya jadi sebuah lukisan yang hasilnya tak kuduga, hasilnya lebih baik daripada bayanganku, lukisan itu kuberi judul SPICE GIRL.

Refleksi Pameran

Momen berkesanku saat menjalani proses pembuatan karya adalah, saat melukis bagian wajah. Aku sangat menikmati bagian ini karena aku banyak melakukan ‘Smudging’, Aku pribadi juga merasa bahwa aku cukup baik dalam melakukan smudging, menurutku smudging tidak terlalu sulit dibandingkan dengan tehknik lain yang pernah kucoba. Hal itu menjadi salahsatu yang membuatku puas dengan hasil karyaku.

Sementara momen berkesan saat pameran spice pace juru rupa adalah, saat banyak orang mengapresiasi karyaku. Aku kira akan sedikit pengunjung pameran yang tertarik dengan karyaku karena aku merasa karyaku kurang menarik tetapi justru sebaliknya, alhamdulillah banyak pengunjung yang menyukai karyaku. Biasanya kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah, “Lucu”, “keren” dan “Aestethic”, kata-kata tersebut membuatku termotivasi untuk membuat karya yang lebih bagus lagi. Aku sempat kaget juga karena ada beberapa orang yang bertanya tentang harga lukisanya, padahal gambarnya masih kurang rapih tapi karyaku memang bukan untuk dijual. Aku juga bertemu dengan seorang ibu-ibu yang ternyata berprofesi sebagai pelukis, ia berbagi banyak tips tentang mencampur warna cat sampai ia tunjukan juga contoh-contoh lukisan dengan ponselnya, aku jadi dapat banyak pelajaran tentang melukis selain dari mentor-mentor juru rupa.

Aku ingin berterimaksih kesemuanya terutama kepada mentor-mentor, orangtua-orangtua, teman-teman dan perupa-perupa yang mensuport kami untuk pameran spice space ini.

Profil Andini Suriatmojo

Ketertarikan anak ke-2 dari 2 bersaudara ini dalam seni rupa tidak lepas dari pengaruh kakak semata wayangnya. Penyuka satwa ini masih terus mengeksplorasi berbagai media visual dari gambar, ilustrasi buku, animasi, foto, video hingga saat ini menemukan keseruan melukis diatas kanvas.

Bergabung dengan Juru Rupa dengan keinginan besar belajar bersama teman-teman di Klub Oase dan menyiapkan sebuah pameran lukisan pertamanya. Selama 3 bulan berproses dari memilih ide, membangun konsep hingga menuangkannya kedalam bidang-bidang kanvas, menghasilkan SPICE GIRL, sebuah seri lukisan pertamanya.yang berkisah tentang rempah.

Silakan meninggalkan pesan untuk perupa agar lebih semangat berkarya.

Para Perupa

Adinda

15 tahun

Andini

11 tahun

Khansa

15 tahun

Kaysan

15 tahun

Kayyisha

11 tahun

Naufal

15 tahun

Tata

15 tahun

Trisha

15 tahun

Syahba

15 tahun